Khamis, Julai 12, 2012

Rindu Rasulullah Saw ..

Ketika Rasulullah saw bersama shbt2 baginda Diantara para sahabat ..Syaidina Abu bakar , syaidina ALI dan yang lain nya
lalu rasulullah saw bertanya para shbtnya
"wahai shabat ku tahukah kalian siapa kah hamba ALLAH yang Mulia DISISI ALLAH " Para shbt terdiam ..lalu ada seorang shbt berkata PARA MALAIKAT ya Rasulullah ..
mereka lah yg mulia
baginda berkata
"ya mereka Mulia disisi ALLAH . Mereka sentiasa bertasbih memuji ALLAH .tapi bukan itu yang ku maksudkan "
Lalu para sahabat kembali terDiam.
Tiba2 Seorang shbt Berkata " tENTULAH para nabi Yg Mulia ..mereka yg mulia itu
Rasulullah saw tersenyum ..
Lalu Rasulullah SAW berkata " ya Tentulah Para Nabi yang mulia ..mereka utusan dari ALLAH sWT dimuka bumi ..mna mungkin mereka tidak boleh Mulia .
para shbt kembali terdiam .mereka tertanya2 siapa lagi yang mulia itu .
Lalu Ada seorang shbt BErkata ya rasululllah apakah kami yg mulia itu ? bginda memandang wajah2 shbt satu persatu, baginda tersenyum melihat shbt2 nya
baginda berkata
" Tentulah kalian mulia , kalian dekat dgn ku membantu perjuangan ku Mana Mungkin kalian tidak mulia " tapi ada lgi yg mulia
para shbt kembali terdiam , mereka tidak mampu berkata -kata
Rasulullah saw kembali menunduk wjahnya . Tiba2 baginda menangis Muhammad menangis dihdp Para shbtnya
para shbt tertanya mengapa engkau menangis Ya rasulullah ..? baginda mengangkat wajah nya mengalir airmata membasahi pipi nya
wahai shbt ku tahukah kalian siapa kah yg mulia itu ..mereka yg lahir jauh daripada ku ..mereka yg rindu dgn ku ..mereka ingin bertemu dgn ku . saksikan shbt2 ku ..aku Rindu bertemu dgn mereka , mereka x pernah melihat wjah ku
mereka itu ummatku .. lalu para shbt baginda menangis2.
~shbt yg dikasihi ~ Diriku ini bukan seperti shbt Baginda yg menangis ingin bertemu dgn baginda tidak jugak seperti kalian .mungkin diriku ini terlalau jauh ..jauh dgn rhmatnya ..ketika berbicara akan cinta kpd Rasulullah pasti hati2 kalian merindu nya ..
~shbt yg dicinta ~
baginda raulullah saw merindu ummatnya ..tapi kita bagimana ? dimanakah idola kita ..?
akhirnya rasulullah saw berkata "Aku Rindukan Ummat ku " ..

Sudah shbt memcintai Nabi muhammad sudah kah air mata mengalir kerna rindukan Nabi muhammad saw ..Sudahkah ??

Selasa, Julai 10, 2012

Jangan Lari Dari Ujian hidup

ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ     


dakwatuna.com – “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.”

Sabda Rasulullah saw. ini ada dalam Kitab Sunan Tirmidzi. Hadits 2320 ini dimasukkan oleh Imam Tirmidzi ke dalam Kitab “Zuhud”, Bab “Sabar Terhadap Bencana”.

Hadits Hasan Gharib ini sampai ke Imam Tirmidzi melalui jalur Anas bin Malik. Dari Anas ke Sa’id bin Sinan. Dari Sa’id bin Sinan ke Yazid bin Abu Habib. Dari Yazid ke Al-Laits. Dari Al-Laits ke Qutaibah.

Perlu Kacamata Positif

Hidup tidak selamanya mudah. Tidak sedikit kita saksikan orang menghadapi kenyataan hidup penuh dengan kesulitan. Kepedihan. Dan, memang begitulah hidup anak manusia. Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit. Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami/istri selingkuh. Pahit karena anak tidak saleh. Pahit karena sakit yang menahun. Pahit karena belum mendapat jodoh di usia yang sudah tidak muda lagi.

Sayang, tidak banyak orang memahami kegetiran itu dengan kacamata positif. Kegetiran selalu dipahami sebagai siksaan. Ketidaknyamanan hidup dimaknai sebagai buah dari kelemahan diri. Tak heran jika satu per satu jatuh pada keputusasaan. Dan ketika semangat hidup meredup, banyak yang memilih lari dari kenyataan yang ada. Atau, bahkan mengacungkan telunjuk ke langit sembari berkata, “Allah tidak adil!”

Begitulah kondisi jiwa manusia yang tengah gelisah dalam musibah. Panik. Merasa sakit dan pahit. Tentu seorang yang memiliki keimanan di dalam hatinya tidak akan berbuat seperti itu. Sebab, ia paham betul bahwa itulah konsekuensi hidup. Semua kegetiran yang terasa ya harus dihadapi dengan kesabaran. Bukan lari dari kenyataan. Sebab, ia tahu betul bahwa kegetiran hidup itu adalah cobaan dari Allah swt. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

Hadits di atas mengabarkan bahwa begitulah cara Allah mencintai kita. Ia akan menguji kita. Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita. Bukankah itu obsesi tertinggi seorang muslim? Mardhotillah. Keridhaan Allah swt. sebagaimana yang telah didapat oleh para sahabat Rasulullah saw. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka.

Yang Manis Terasa Lebih Manis

Kepahitan hidup yang dicobakan kepada kita sebenarnya hanya tiga bentuk, yaitu ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Orang yang memandang kepahitan hidup dengan kacamata positif, tentu akan mengambil banyak pelajaran. Cobaan yang dialaminya akan membuat otaknya berkerja lebih keras lagi dan usahanya menjadi makin gigih. Orang bilang, jika kepepet, kita biasanya lebih kreatif, lebih cerdas, lebih gigih, dan mampu melakukan sesuatu lebih dari biasanya.

Kehilangan, kegagalan, ketidakberdayaan memang pahit. Menyakitkan. Tidak menyenangkan. Tapi, justru saat tahu bahwa kehilangan itu tidak enak, kegagalan itu pahit, dan ketidakberdayaan itu tidak menyenangkan, kita akan merasakan bahwa kesuksesan yang bisa diraih begitu manis. Cita-cita yang tercapai manisnya begitu manis. Yang manis terasa lebih manis. Saat itulah kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebab, sekecil apa pun nikmat yang ada terkecap begitu manis.

Itulah salah satu rahasia dipergilirkannya roda kehidupan bagi diri kita. Sudah menjadi ketentuan Allah ada warna-warni kehidupan. Adakalanya seorang menatap hidup dengan senyum tapi di saat yang lain ia harus menangis.

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali ‘Imran: 140)

Begitulah kita diajarkan oleh Allah swt. untuk memahami semua rasa. Kita tidak akan mengenal arti bahagia kalau tidak pernah menderita. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis karena tidak pernah merasakan pahit.

Ketika punya pengalaman merasakan manis-getirnya kehidupan, perasaan kita akan halus. Sensitif. Kita akan punya empati yang tinggi terhadap orang-orang yang tengah dipergilirkan dalam situasi yang tidak enak. Ada keinginan untuk menolong. Itulah rasa cinta kepada sesama. Selain itu, kita juga akan bisa berpartisipasi secara wajar saat bertemu dengan orang yang tengah bergembira menikmati manisnya madu kehidupan.

Bersama Kesukaran Selalu Ada Kemudahan

Hadits di atas juga berbicara tentang orang-orang yang salah dalam menyikapi Kesulitan hidup yang membelenggunya. Tidak dikit orang yang menutup nalar sehatnya. Setiap kegetiran yang mendera seolah irisan pisau yang memotong syaraf berpikirnya. Kenestapaan hidup dianggap sebagai stempel hidupnya yang tidak mungkin terhapuskan lagi. Anggapan inilah yang membuat siapa pun dia, tidak ingin berubah buat selama-lamanya.

Parahnya, perasaan tidak berdaya sangat menganggu stabilitas hati. Hati yang dalam kondisi jatuh di titik nadir, akan berdampat pada voltase getaran iman. Biasanya perasaan tidak berdaya membutuhkan pelampiasan. Bentuk bisa kemarahan dan berburuk sangka. Di hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi di atas, bukan hal yang mustahil seseorang akan berburuk sangka terhadap cobaan yang diberikan Allah swt. dan marah kepada Allah swt. “Allah tidak adil!” begitu gugatnya. Na’udzubillah! Orang yang seperti ini, ia bukan hanya tidak akan pernah beranjak dari kesulitan hidup, ia justru tengah membuka pintu kekafiran bagi dirinya dan kemurkaan Allah swt.

Karena itu, kita harus sensitif dengan orang-orang yang tengah mendapat cobaan. Harus ada jaring pengaman yang kita tebar agar keterpurukan mereka tidak sampai membuat mereka kafir. Mungkin seperti itu kita bisa memaknai hadits singkat Rasulullah saw. ini, “Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (HR. Athabrani)

Tentu seorang mukmin sejati tidak akan tergoyahkan imannya meski cobaan datang bagai hujan badai yang menerpa batu karang. Sebab, seorang mukmin sejati berkeyakinan bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Setelah hujan akan muncul pelangi. Itu janji Allah swt. yang diulang-ulang di dalam surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Jadi, jangan lari dari ujian hidup!

Dakwatuna

Isnin, Julai 09, 2012

ikhlas kah Diri Ini ? Muhasabah Diri

Sejenak kita renungkan..

Semoga ada ikhtibar yang kita dapat ambil bersama dalam melayari bahtera kehidupan.



Orang yang sibuk melakukan kebaikan tidak akan sempat melihat kejahatan orang lain. Demikian kata2 hukama yang menerjah ruang fikiranku. Ah, betapa kurangnya kau melakukan kebaikan.. bisik hati kepada diri sendiri. Justeru, mata, telinga dan indera yang lain masih sempat melihat, menghidu dan menuturkan kejahatan orang lain. Terasa diri amat hina, ketika usia melonjak dengan begitu cepat, diri terasa masih merangkak-rangkak menyusur jalan taubat.



Betapa sekali-sekala melakukan kebaikan terasa hebat bukan kepalang. Tanpa sedar riak bertandang. Terasa ingin dipamerkan segala-galanya agar dipuji dan disanjung dengan kata-kata dan anugerah manusia. Biar terserlah siapa aku, bisik ego diri. Padahal nilai amal yang sebegitu tidak ada harganya walau sedebu. Apatah lagi ALLAH yang pastinya tidak akan menerima sebarang sekutu. Dan manusia pun akhirnya akan memandang sinis dan loya dengan ‘aku’ mu.



Apabila riak itu adalah tertipu dengan kehadiran manusia, sum’ah pula terpedaya tanpa kehadiran sesiapa. Walaupun sesiapa di mata tetapi di hati masih mengharap-harap amal yang kononnya disembunyikan itu diketahui juga oleh manusia. Ah, alangkah indah rasanya apabila amal yang cuba disembunyikan itu diketahui lalu diheboh-hebohkan pula. Ah, hebatnya dia! Begitu kata sanjung yang dijunjung. Pada ketika itu hati pun berbunga. Aduh, sum’ah lebih dasyat tipuannya daripada riak.



Apabila terlepas diri daripada keduanya, menanti pula musuh ketiga yang tidak kurang hebatnya... ujub! Takjub dan berasa hairan terhadap diri sendiri. Kali ini bukan pujian manusia yang terang dan bersembunyi yang diharapkan tetapi pujian diri terhadap diri sendiri. Betulkah ini aku? Alangkah hebatnya. Terasa diri bagaikan wali apabila amal ibadah mengatasi orang lain. Aku bukan manusia biasa. Aku tinggi mengatasi semua. Ujub hakikatnya lebih sukar dikesan dan dirawat berbanding riak dan sum’ah.



Bukan mudah untuk ikhlas. Semakin dicari terasa semakin misteri. Memang, ikhlas itu rahsia dalam rahsia ALLAH. Melakukan sesuatu kebaikan bukan kerana ALLAH..itu tidak ikhlas. Meninggalkan satu kejahatan bukan kerana ALLAH.. itupun tidak ikhlas. Kekadang begitu ikhlas hati ketika memulakan amal, tetapi sampai dipertengahan, kecundang oleh sesuatu yang selain ALLAH. Ya ALLAH, aku benar-benar pasrah. Perjuangan untuk ikhlas terlalu seru dan keliru. Bantu aku, memahami dan menangani rahsia ini.



Beribadahlah sehingga terasa penat untuk melakukan maksiat. Begitu pesan hukama yang menjadi kompas hati. Buatlah apa sahaja kebaikan sejak sebelum terbit fajar sehingga terbenam mentari. Ikhlas atau tidak jangan diperkirakan dulu. Jangan mengukur kesempurnaan di garis permulaan amal. Beramallah walau hati terganggu oleh mazmumah dan ikhlas diintai oleh riak dan sum’ah. Pedulikan ujub yang menanti masa untuk menyusup. Tega dan relakan sahaja.



Teringat apa yang dipesankan oleh Imam Ghazali ketika muridnya bertanya, “Tuan, bagaimana keadaanku ketika mulutku berzikir tetapi hatiku masih lalai?” Lalu Imam yang arif dalam soal keajaiban hati itu pun berkata,”Teruskanlah berzikir walau hatimu lalai kerana sekurang-kurangnya lidahmu akan terselamat daripada berkata-kata yang kotor dan sia-sia.”



Teringat pula apa yang pernah ditanyakan oleh Abu Hurairah kepadada Nabi Muhammad SAW tentang seorang yang mengerjakan solat tetapi masih mencuri. Lalu Rasulullah menegaskan solat itu lambat-laun akan menghilangkan tabiatnya yang buruk itu. Jadi, jika dirimu masih melakukan kejahatan, ingatlah itu bukan alas an untuk tidak dan berhenti melakukan kebaikan. Bahkan iringilah perbuatan dosa dengan kebaikan kerana kebaikan itu lambat cepat akan menghapuskan kejahatan.

Aku hanya insan kerdil di lautan rahsia ikhlas yang sangat dalam. Yang terjangkau olehku hanyalah sebutir percikan ombak dipermukaannya. Namun, aku juga hamba ALLAH yang berhak menuju-NYA. Ketika aku keliru, tunjukkanlah. Ketika aku lemah, perkukuhkanlah. Ketika alpa, ingatkanlah. Hanya Dikau wahai ALLAH yang berhak memilih sesiapa untuk dianugerahkan rasa ikhlas itu. Padaku hanya tadbir..pada-Mu segala takdir. Bantulah aku meluruskan tadbirku menjurus kepada takdir-Mu.

Pilihlah aku untuk ikhlas.. Amin!

Jangan Bersedih ~La Tahzan InaALLAHha Ma ANA

Ramai org tersalah sangka maksud ketenangan itu , selalu org mengaitkan dengan faktor harta kekayaan walaupun itu menjadi penyumbang tapi bukan segala .betapa ramai org berada didalam rumah Yg besar tapi lena nya tidak enak berbanding dengan org yg tidur didalam rumah pondok buruk kadang2 tidur nya lebih enak dari kita
ada org yg berhadapan nya dgn makanan yg bagus tapi lidahnya tidak enak berbanding org yg dihdp nya lauk sederhana tetapi lidah nya terasa selesa .

kata hamka Lihat lah bagaimana ALLAH membahagi-bahagikan Nikmat nya

semua org sangka kalau tinggal di dalam Rumah Yg besar ,HIdangan yang sedap Tentulah dia bahagia dan tenang

belum tentu!

Jika ALLAH Hendak berikan kebahagian kepada seseorang dia tidak boleh ditahan dengan apa2 tangan sekali pun

Jika ALLAH menghalang kebahagian seseorang dia tidak boleh dihulur apa2 tangan sekalipun

Jika ALLAH Uruskan Urusan kITA dan ALLAH tIDAK SErahkan kita kepada kita walaupun sekelip mata dunia blh berbuat apa2 tetepi mereka tidak boleh mencabar kebesaran ALLAH

Jika Allah Aturkan kpd kita apa yang disangka org tewas kita akan lihat kemenangan kita dari sisi ALLAH sWT .

Apa yg org rasa rugi ALLAH akan berikan keuntungan yg mna tidak disangka kan ..iaitu keajaiban yang ALLAH berikan pada orang2 yang bertakwa .