Jumaat, Februari 18, 2011

DuNIA mYA MEmperSONAKAN

Dia merupakan seorang ikhwah yang iltizam terhadap din. Hafiz Al-Quran yang juga sangat bersemangat dalam menuntuni sunnah Nabi dan mendakwahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bolehlah disebut dia sebagai aktivis dakwah. Dengan cahaya ilmu dan amal yang menghiasi dirinya, maka tidak dapat dinafikan, pelbagai pujian mengalir untuknya. Keluarga, sahabat handai dan orang yang mengenalinya memujinya. “Soleh” , “zuhud” , “alim” dan berbagai sanjungan lain mereka sematkan untuknya.










Demikianlah keadaannya. Sehingga di suati ketika dia mengenal internet, di sinilah perubahan itu bermula. Dia yang walaupun berlatar belakang dari sekolah biasa, namun sejak kenal dengan dakwah dan tarbiyah sudah mula menjaga jarak dari lawan jenis, bahkan terputus komunikasi antaranya dengan lawan jenis, kecuali bila darurat atau ada hajat yang perlu ditunaikan. Tatkala dia membuka dan menjelajahi dunia maya, terpanalah dia. Dia melihat dunia baru yang belum pernah dikenalinya sebelum ini.






Dia terpana menyaksikan interaksi antara (sebahagian) ikhwah dan akhwat di “dunia baru” ini. Jika hubungan antara (sebahagian) ikhwah dan akhwat terasa “dingin” di dunia nyata, namun di dunia maya, justru “kehangatan”lah yang terasa. Sekat yang selama ini membatasi pergaulan Ikhwah-akhwat dalam dunia nyata, seolah-olah tak teraba di dunia maya. Para ikhwah yang selama ini “kaku”, “kontrol macho” di hadapan akhwat, begitu juga sebaliknya, namun di dunia maya semua itu seakan tinggal cerita. Yang dia saksikan justru “keramahan”: saling menyapa, gurau senda dan saling berkongsi masalah. ”Pesona” seperti inilah yang dia saksikan hampir setiap hari di dunia maya. Terlihat “indah” memang. Namun, baginya “pesona” itu hanyalah fatamorgana yang menipu. Dia tak menghiraukannya. Dia tetap istiqamah dalam ilmu dan amalnya.









Akan tetapi, betapapun jernihnya kaca, bila selalu terkena debu maka akan kusam pula akhirnya. Meskipun dia mengingkari “pesona” yang ada di depan matanya, namun ketika “pesona” itu berulang-ulang disaksikannya sehari-hari, tanpa disedari “pesona” itu mewarnai benaknya dan bergelayut di hatinya. Jadilah “pesona” itu seakan magnet yang menariknya untuk menghampiri dan menyambutnya. Maka tatkala luapan “pesona” itu telah tertambat kuat di hatinya dan membuncah di dadanya, tak sanggup lagilah dia untuk menjauhinya . Dia pun menghampiri blog-blog para akhwat demi “maslahat dakwah”. Dia buka chatting dengan lawan jenis untuk suatu tujuan yang namanya “hidayah”.









Tak disangka, ada “kehangatan” tersendiri baginya ketika itu. Maka dia pun makin bersemangat memberikan faedah atau nasihat kepada lawan jenisnya melalui komen di blog atau chatting. Demikianlah seterusnya, nasihat demi nasihat selalu mengalir darinya. Setelah berlalu beberapa waktu dilanjutkan dengan “nasihat akrab”: nasihat dengan sedikit canda agar menghilangkan “kekakuan”. Demikian seterusnya. Sehingga akhirnya dia mengunjungi blog-blog para akhwat dan chatting dengan mereka hanya sekadar untuk bergurau senda, mengisi masa lapang dan menghilangkan stress.









Tanpa terasa adab-adab berbicara terhadap lawan jenis makin dilalaikan. Ilmu dan amal yang selama ini diusahakan mula ditinggalkan. Akhirnya fikirannya dipenuhi dengan “pesona dakwah“ yang dijalankannya. Di hatinya tersemai rindu untuk bertemu dengan “mad’u”nya. Bila satu hari saja tidak memberi “nasihat”, kegalauan mengurung hatinya dan menyesakkan dadanya.









Tak terasa hafalan Al-Qurannya pun terganggu. Kekhusyukannya dalam membaca dan merenungi kitabullah pun mulai luntur. Hari demi hari berlalu terasa makin sulit baginya untuk mentadabur ayat-ayat Al-Quran yang dibaca atau didengarnya. Dia tidak bisa lagi mencecap manisnya menyelami Al-Quran seperti sebelumnya.



Apa yang salah denganmu, ya akhi? Kenapa hatimu menjadi keras? Mana air mata yang dulu menitis dari matamu tatkala ayat-ayat Allah dilantunkan? Mana semangat beramalmu yang dulu membara tatkala hadits Nabi disebutkan? Apa penyebab semua ini, wahai saudaraku?









Internet! Itulah jawapan dari semua pertanyaan tadi. Kamu telah menjadi korban internet. Internet, chatting, facebook dan yang semisalnya telah menjauhkanmu dari cahaya hidayah!









Internet memang merupakan salah satu kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita semua di zaman ini. Namun siapa yang menyangka jika kenikmatan ini boleh berubah menjadi kebinasaan tatkala melampaui batas-batas hukum-Nya atau digunakan untuk selain yang diredhai-Nya.









Tak ada yang salah seorang ikhwan ingin mendakwahi atau memberi faedah kepada akhwat, begitu juga seorang akhwat ingin mendakwahi atau memberikan faedah kepada ikhwan. Namun apa faedah yang ingin kamu sampaikan jika ada “sesuatu” pada hatimu tatkala menasihatinya? Apa faedah yang ingin kamu sampaikan jika fikiranmu membayangkan sosoknya? Apakah kata-kata mesramu itu dapat menunjukkannya pada hidayah? Apakah candamu itu dapat mendekatkannya kepada Allah?









Betul, di zaman salafus saleh memang ada surat-menyurat antara lelaki dan wanita. Melalui surat, mereka saling menegur, menasihati, memenuhi keperluan yang perlu diselesaikan. Akan tetapi, sudahkah kamu menyamai mereka dari sisi ilmu dan ketaqwaan? Apakah kamu telah meneladani mereka dalam menjaga adab-adab berbicara terhadap lawan jenismu? Apakah darjat ketaqwaanmu telah menyamai mereka sehingga hatimu tak merasakan “apa-apa” tatkala menasihati “mad’u”mu?



Kalau jawapanmu belum, maka tutuplah “keindahan” dan “kerinduan” yang telah kamu rasakan ini. Gantilah itu dengan keindahan tangismu tatkala membaca ayat-ayat Rabbmu. Gantilah itu dengan kebahagiaan hatimu tatkala menuntuni sunnah Nabimu. Gantilah itu dengan kerinduanmu untuk bertemu dengan-Nya di akhirat kelak.









Kalau kamu merasa kebiasaan barumu itu sebagai sesuatu yang lumrah dan lazim, apalagi sampai menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu diperjuangkan dan tidak semestinya dikekang, maka marilah kamu kami mandikan, kami kafankan, kami solatkan, lalu kami kuburkan. Kerana hatimu sudah beku, nyawa-nyawa ikan atau mati, meski masih bergerak jasadmu, masih menatap matamu, dan masih berbicara lisanmu. innaa lillahi wainnaa ilaihi raji'un…
Catat Ulasan